18 February 2018

Pil Pahit Menghindari Krisis Ekonomi

Parlemen News

Parlemennews.co.id – Jakarta: Ekonomi dunia saat ini tengah diliputi ketidakpastian. Di saat ekonomi Amerika Serikat mulai membaik, yang ditandai dengan rencana The Fed menaikkan suku bunganya, kondisi diperparah dengan krisis ekonomi Yunani dan ambruknya bursa saham China.

Dua faktor yang membuat Indonesia gamang tak lain ialah perkembangan Amerika dan China. Pasalnya, dua negara ini merupakan negara adidaya yang imbas kondisi dalam negerinya dapat mempengaruhi dunia.
Pemerintah dan sejumlah otoritas keuangan Tanah Air tak lantas tinggal diam. Presiden Joko Widodo sendiri bereaksi dengan kondisi dunia saat ini. Presiden mengingatkan apa yang terjadi pada negara-negara dunia untuk menjadi pelajaran bagi Indonesia. Presiden Jokowi melihat beberapa negara tak rasional lantaran pemerintahnya menjanjikan kesejahteraan tanpa melalui kerja keras. “Tak ada seperti ini di dunia. Negara-negara itu sekarang sedang krisis perekonomian. Ini yang harus kita hindari,” ujar Presiden Jokowi saat berpidato di depan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta Convention Centre (JCC).
Presiden memandang, krisis ekonomi yang melanda Eropa karena kesalahan negara-negara yang tak siap mendongkrak perekonomiannya. Pengetatan fiskal yang dianalogikan sebagai obat pahit, tidak diterima sebagai bentuk penyelamatan dari kebangkrutan. “Ada negara menolak menelan obat yang pahit. Mereka gagal mendongkrak mesin ekonomi,” tegasnya.


Pemerintah, lanjut Jokowi, telah memiliki skema agar Indonesia tak jatuh ke lubang yang sama. Jika menilik sejumlah kebijakan Jokowi ke belakang, memang masyarakat dipaksa untuk menelan obat pahit. Salah satunya tentu pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang diklaim pemerintah untuk penyehatan keuangan negara.
Selain subsidi, target pajak juga dipatok tinggi. Tak ayal, pengusaha pun menjerit karenanya. “Seharusnya dilakukan relaksasi, lebih ke stimulus. Ini catatan penting,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. Namun, Jokowi bergeming. “Pahit saya bilang pahit, kalau manis ya manis,” kata mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.


Presiden menambahkan, untuk langkah antisipasi jangka pendek, pemerintah tidak akan anti terhadap utang. Meski utang Indonesia tercatat telah ribuan triliun Rupiah. Hanya, Jokowi berjanji penggunaan utang akan diarahkan ke sektor produktif. Sektor di mana akan kembali menghasilkan uang bukan yang hilang menguap begitu saja.
“Pendanaan (utang) kita itu untuk investasi yang meningkatkan produktivitas. Bukan utang untuk konsumtif. Bukan utang untuk subsidi BBM. Kita sudah hitung manfaat yang akan jauh di atas bunga pinjaman dan ongkos pendanaan,” ucap Jokowi.

 

Jokowi optimis, pembiayaan dengan utang akan mendorong pertumbuhan ekonomi. “Sisa tahun stimulus akan mendorong pertumbuhan 0,1 -0,3 persen. 2016 stimulus ekonomi mendorong 0,5-1 persen,” tuturnya. Langkah kedua, di mana untuk jangka panjang, ialah pembangunan infrastruktur Indonesia. Buruknya infrastruktur menjadi penghalang pertumbuhan ekonomi selama ini.

“Infrastruktur jadi salah satu hambatan utama untuk mendorong mesin pertumbuhan baru. Distribusi logistik melalui laut paling murah sehingga pembangunan difokuskan pada laut. Pembangunan di Kuala Tanjung, di Makassar, sudah dimulai. Sebentar lagi di Sorong. Kemudian akan dibuat 24 pelabuhan di Tanah Air,’ jelasnya.


Selain itu, Jokowi turut ingin membangun industri dalam negeri agar Indonesia tak melulu menjadi penghamba barang impor. Hal ini disampaikan Jokowi saat mengetahui industri perkapalan Tanah Air bergantung pada produk impor. Dia marah karena Indonesia justru kalah di sektor kemaritiman yang merupakan modal utama kita.
“80 persen kapal dari impor. Padahal kita negara zona maritim. Padahal, industri galangan kapal kita sudah siap,” ujarnya. Maka dari itu, Jokowi memerintahkan industri kapal untuk setop membeli produk impor. Pemerintah akan mendorong produksi dari galangan kapal lokal. Hal ini telah disampaikannya pada rapat terbatas kabinet beberapa waktu lalu.

“Dalam ratas (rapat terbatas) saya katakan, kapal tidak boleh lagi impor!,” tegas Jokowi. Langkah menyetop impor memang pahit saat ini, namun, bermanfaat untuk Indonesia di masa mendatang. (pn/aw)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *