14 December 2017

Dunia Sementara, Akhirat Selamanya

Saudaraku rahimakumullah, hidup di dunia ini sekali saja, setiap waktu yang kita lewati niscaya tidak terulang untuk yang kedua kalinya. Hari ini pukul 07.00, besok lusa akan menemui pukul 07.00 tetapi hakikatnya tidak sama, karena pukul 07.00 kemarin berbeda ruang dan waktunya. Oleh  karenanya sungguh sangat merugilah seseorang yang waktunya dihabiskan hanya untuk mengagung-agungkan dunia.

Dunia yang kita jumpai sekarang ibarat seorang yang berlari sejauh 10 km di  siang hari, sehingga akan menimbulkan dahaga yang amat sangat, akibat dari dahaga tersebut, tatkala beliau melihat 10 gelas air maka beliau pasti akan meminumnya. Tegukan pertama mungkin adalah suatu hal yang sangat ni’mat, dan seterusnya, sampai suatu saat pada gelas yang keempat mungkin beliau sudah agak mulai bosan dan kalau seandainya beliau masih memaksakan meminum air yang digelas ke 7 mungkin perutnya sudah tidak sanggup lagi, bahkan akan mengakibatkan mual yang akan terjadi pada dirinya.

Demikianlah hidup ini, apa-apa yang kita punya tidak akan pernah abadi dan kekal kenikmatannya. Contoh lain seorang wanita yang mempunyai profesi bintang film atau foto model, pada umur 20-30 tahun mungkin mereka masih dikagumi atau diagung-agungkan oleh penggemarnya, tapi manakala mereka telah berusia 40 tahun keatas dimana kulitnya sudah mulai mengeriput, rambutnya yang sudah mulai beruban, jalannya yang sudah mulai membungkuk pendek kata kecantikan dan keanggunan yang dimilikinya telah memudar, seiring dengan itu penggemarnyapun akan mulai menjauh dan pada akhirnya tidak akan memperhatikannya sama sekali.

Ingatlah, dunia, rezeki ataupun derajat kemuliaan dalam pandangan sesama manusia ini tak ubahnya seperti bayangan diri, karena tertimpa sinar matahari. Semakin dan sekuat tenaga mengejarnya, bayang-bayang itu akan semakin menjauh dan tidak akan pernah tersentuh, kitapun jadi letih karenanya, akan tetapi, semakin kita mendekati sumber cahaya, maka tanpa dikejarpun bayang-bayang itu akan mengikuti kita.

Demikianlah bagi yang tahu ilmunya, dia yakin bahwa “sumber cahaya” itu tidak lain adalah Allah Azza Wa Jalla, semakin jauh dari Allah maka semakin jauh dan tak akan pernah terjangkau segala apa yang kita kejar dan kita dambakan. Sebaliknya, semakin sungguh-sungguh mendekat kepada Allah, maka cahaya itu pasti akan datang dengan sendirinya. Segala urusan dunia niscaya akan dimudahkan, kebutuhan apapun akan dicukupi oleh Allah, dan tidak akan pernah berkekurangan.

Oleh karenanya, maka benarlah yang difirmankan Allah Azza Wa Jalla, “ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang turun, tanamannya mengagungkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadiid (57) : 20).

Saudaraku, bagi siapa saja yang telah memahami hakikat dunia ini, dia tidak akan dipusingkan dengan segala urusan di dalamnya. Hidup di dunia ini ibarat manusia berteduh dibawah sebatang pohon rindang. Kita kan tidak mesti pusing dengan keadaan pohon tersebut, sebab yang penting kita bisa berteduh saja. Suatu saat kita harus meninggalkannya pun tidak akan membuat pikiran kita jadi pusing. Artinya, semua yang ada janganlah dianggap punya kita, semakin kita anggap bahwa pohon rindang itu milik kita, maka akan semakin berat kita saat kehilangannya. Saudaraku, sebenarnya apa yang kita inginkan dari kehidupan dunia yang fana ini, hati yang kita miliki, mata yang kita miliki, telinga yang kita miliki seolah-olah tidak dapat lagi kita gunakan untuk dapat mencermati kehidupan ini, oleh karenanya selagi umur masih dikandung badan, selagi ada kesehatan dan kesempatan untuk berbuat shaleh, berbuatlah yang terbaik untuk diri, keluarga dan umat ini agar tidak tertipu oleh kesenangan duniawi.

Saudaraku, Barangkali kita pernah membaca atau mendengar dalam riwayat akan Umar bin Khattab menangis? Umar bin Khattab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka  Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan  umat Islam.

Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan. Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis? Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia  mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku. Rasul yang mulia bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab, “bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

Nabi berkata, “mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah pohon,kemudian berangkat dan meninggalkannya.” Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya. Saudaraku! Ketika  kita menuju ke suatu tempat dan melewati jembatan anggap saja jembatan itu merupakan dunia ini. Apakah ketika berjalan melewati jembatan kita akan menghabiskan segala perbekalan kita? Apakah kita akan selamanya berjalan melewati jembatan itu?

Ketika kita sedang terlena dan sibuk dengan dunia ini, tiba-tiba Allah memanggil kita pulang kembali ke sisi-Nya. Perbekalan kita sudah habis, tangan kita penuh dengan bungkusan dosa, lalu apa yang akan kita bawa nanti di padang Mahsyar. Sisakan  kesenangan kita di dunia ini untuk bekal kita di akherat.

Manusia tinggal di dunia hanya untuk waktu yang singkat. Di sini, ia akan diuji, dilatih, kemudian meninggalkan dunia menuju kehidupan akhirat di mana ia akan tinggal selamanya. Harta benda serta kesenangan di dunia, walaupun diciptakan serupa dengan yang ada di akhirat, sebenarnya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan karena harta benda dan kesenangan tersebut ditujukan hanya agar manusia mengingat hari akhirat. Akan tetapi, orang yang ingkar tidak akan mampu memahami kenyataan ini sehingga mereka berperilaku seakan-akan segala sesuatu di dunia ini miliknya. Hal ini memperdaya mereka karena semua kesenangan di dunia ini bersifat sementara dan tidak sempurna, tidak mampu memuaskan manusia yang diciptakan untuk keindahan kesempurnaan abadi, yaitu Allah.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *