18 February 2018

Dampak Pelemahan Rupiah Makin Terasa

Parlemennews –  Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) telah mengganggu bisnis usaha yang berbasis impor. Nilai tukar yang sudah menyentuh level di atas Rp 13.000 mempengaruhi impor bahan baku yang dilakukan PT PLN (Persero) dalam membangun proyek ketenagalistrikan.

Senior Manager Corporate Communication PLN Bambang Dwiyanto mengatakan kerugian akibat melemahnya nilai tukar Rupiah tersebut diperkirakan mencapai Rp 1,3 triliun. Namun, kerugian tersebut hingga saat ini masih terus dihitung lantaran pelemahan Rupiah masih terus terjadi.

“Kerugian nanti dihitung di laporan keuangan, tapi elastisitasnya itu kira-kira kalau ya kerugiannya Rp 1,3 triliun,” ujar dia di Kantor Pusat PLN, Jakarta Kamis (12/3).

Selain itu, beberapa utang perseroan pun masih menggunakan mata uang Dolar, sehingga kebutuhan akan Dolar meningkat. “Berpengaruh sekali (pelemahan rupiah). Kita kan banyak utang dalam Dolar, kewajiban dalam Dolar. Impor sparepart, sparepart kendaraan, komponen kelistrikan semua pakai Dolar,” pungkas dia.

Berdasarkan data perdagangan di pasar valuta asing, hari ini Rupiah kembali keok dan ditutup pada level Rp 13.192 per USD. Posisi ini mengalami penurunan 98 poin atau sekitar 0,75 persen dibandingkan posisinya pada sesi pembukaan pagi tadi di Rp 13.098 dan sempat bergerak pada level Rp 13.145 sampai Rp 13.245 per USD.

Namun Demikian, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika (USD) tidak berdampak pada kinerja PT Pelindo III. Pasalnya, lalu-lintas transaksi di perusahaan pelat merah tersebut masih banyak menggunakan dolar Amerika.

“Kebetulan di Pelindo III hampir secara keseluruhan, ya ada beberapa aktivitas kegiatan, komponen tarif ada yang menggunakan dolar, kemudian kegiatan-kegiatan luar negeri khususnya untuk kapal-kapal luar negeri mengenakan tarif dolar khususnya kegiatan peti kemas asing kita mengenakan itu,” ucap Deputi General Manager PT Pelindo III Bambang Hasbullah kepada media di Jakarta, Kamis (12/3).

Bambang mengakui saat ini masih ada transaksi menggunakan Rupiah. Kerugian transaksi Rupiah kemudian disubsidi oleh keuntungan transaksi menggunakan dolar Amerika. “kita saling subsidi silang saja. Kalau untuk kenaikan di sana sini, itu sudah pasti ada,” katanya.

Direktur Utama PT Pelabuhan Tanjung Priok, Ary Herianto mengungkapkan penggunaan dolar dalam transaksi di pelabuhan lantaran pihaknya belum mendapatkan arahan dari pemerintah untuk menggunakan Rupiah. “Sampai sekarang ketentuan yang ada, SK penarifan masih pakai SK yang USD, kira-kira seperti itu. Kita mengacu ke sana,” tuturnya.

Untuk diketahui, sejumlah pengusaha dalam negeri pernah mengelukan penggunaan mata uang asing dalam transaksi di pelabuhan. Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Tenaga Kerja Benny Soetrisno sempat melayangkan keluhan tersebut. Benny menyebut di dalam undang-undang tertuang transaksi mata uang rupiah sebagai alat tukar dalam negeri.

“Tarif harus menggunakan rupiah. Kalau pakai dollar bisa dipidanakan. (Sementara) di Pelindo, transaksinya menggunakan dolar,” keluh Benny beberapa waktu lalu. (aw/PN)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *